Selasa, 23 Februari 2010

Berguru e-Commerce kepada Taobao

Dengan tubuhnya yang kurus, dia mengangkut kardus sampo, bedak, dan bedak menuju gudang tokonya di bawah tanah. Yang Fugang seorang mahasiswa. Mestinya lelaki yang tinggal di Kota Kecil Yiwu itu beberapa bulan lagi lulus kuliah. Tapi kini tubuhnya lebih sering tenggelam di balik tumpukan kardus sampo ketimbang buku kuliahnya. Toko online-nya sedang tumbuh pesat.

Dia mengoperasikan toko daring (online dengan menjual barang-barang kebutuhan mandi yang dia ambil dari pabrik setempat. Lelaki itu punya 14 karyawan, dua gudang, dan sejumlah modal tunai. Toko daringnya ada di Taobao.com — mal dengan pertumbuhan terpesat di Cina.

“Tak pernah terpikir sebelumnya saya bisa membuka toko daring dengan baik,” kata Yang, 23 tahun, yang tahun lalu mengantongi pendapatan US$ 75 ribu (sekitar Rp 675 juta). Dulu ia memulai bisnisnya dengan rasa ragu memenuhi kepalanya. Ia menjual karpet untuk Yoga, kini dia beralih ke produk kosmetik, karena lebih tinggi labanya.

Belakangan, demam Taobao telah menyeret Yang keluar dari bangku kuliah di Yiwu Industrial and Commercial College. Demam itu pula, menurut pengelola universitas itu, yang membuat seperempat dari 8.800 mahasiswanya mengoperasikan toko online di Taobao.com dari kamar-kamar kos mereka. Dekan dan rektor tak mengutuk tindakan ini.

Taobao.com adalah fenomena. Ada jutaan orang yang membuka toko daring di sana, dari mahasiswa, pensiunan, sampai ibu-ibu yang bosan menonton opera sabun. Ledakan pengguna Taobao.com bahkan mengalahkan eBay.com — situs lelang dari Amerika yang sempat ekspansi ke Cina.

Hanya dalam enam tahun Taobao.com — dalam bahasa Cina berarti “mencari harta karun”–memiliki 120 juta anggota dan 300 juta produk yang dijual. Para pedagang di bawah payung mereka tahun lalu telah menjual hampir US$ 15 miliar (sekitar Rp 135 triliun).

Angka itu sama dengan sepersepuluh APBN Indonesia. Malah banyak analis bilang kekuatan Taobao.com itu mendekati Amazon.com, yang penjualannya diperkirakan US$ 19 miliar (Rp 171 triliun).

Resesi global juga membantu Taobao.com berkembang. Banyak perusahaan yang tak bisa menyalurkan barangnya akhirnya menyerahkan barang-barang mereka ke wiraniaga yang bergabung dengan Taobao.com.

Dengarlah betapa kuatnya cengkeraman Taobao.com. “Saya tak bisa hidup tanpa membuka Taobao,” kata Zhang Kangni, pelajar dari Shanghai. “Pertama, karena murah. Saya menemukan sebuah gaun di Shanghai dengan merek Hong Kong seharga US$ 175. Saya menemukan gaun serupa di Taobao seharga US$ 33.

Taobao sendiri baik hati. Dia tak memungut biaya transaksi. Semuanya dibiayai dari pendapatan iklan US$ 200 juta (sekitar Rp 1,8 miliar). Saat Taobao didirikan oleh seorang guru bahasa Inggris bernama Jack Ma pada 2003, sepertinya tak ada peluang bagi Taobao untuk hidup. Situs eBay dan raksasa Internet Cina, EachNet, mengontrol 90 persen belanja di Internet. Tapi Jack Ma pintar. Sementara eBay memungut biaya dari setiap transaksi, Taobao justru gratis.

Taobao pun berkibar seperti “dotcom”-nya yang lain, yakni Alibaba.com. Mereka kini malah mendapat kucuran dana dari Yahoo!, Goldman Sachs, dan Softbank Group dari Jepang. Taobao kini mengontrol 80 persen belanja online Cina, menurut iResearch.

Bisakah “dotcom” atau toko online Indonesia belajar dari Taobao–terutama soal bagaimana melawan raksasa dan mengundang investor asing? Dulu Indonesia punya Ekuator.com, toko buku online yang didukung grup Mizan. Kini pusara toko buku itu pun tak jelas.

Penerusnya, seperti Bukukita.com, Bearbookstore.com, Inibuku.com, dan Palasarionline.com, sepertinya masih jauh dari harapan. Beberapa situs lelang asli Indonesia juga berdiri, tapi mereka cuma seumur jagung. Dengan 30 juta pengguna Internet, Indonesia mestinya bisa punya toko online yang besar, walau tak harus sebesar Taobao.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar